Sorotan: Tukang Sol Keliling, Profesi Lama yang Tetap Bertahan di Tengah Zaman
"Sol sepatu!" Seruan ini dulu akrab terdengar di gang-gang perumahan. Dengan kotak kayu berisi palu, benang, dan lem, tukang sol keliling memperbaiki sepatu warga di depan rumah. Di tengah gempuran sepatu murah dan belanja daring, profesi ini tetap bertahan.
Keterampilan yang Diwariskan
Banyak tukang sol belajar dari orang tua atau kerabatnya. Mereka mahir menjahit sol dengan tangan, menambal kulit, dan memasang hak dengan peralatan sederhana. Keterampilan ini dibangun dari pengalaman bertahun-tahun.
Tantangan Ekonomi
Sepatu murah yang sulit diperbaiki dan kebiasaan membeli baru mengurangi permintaan. Pendapatan harian tidak menentu dan bergantung pada cuaca serta jumlah warga yang ditemui.
Beradaptasi dengan Zaman
Sebagian tukang sol kini menetap di lapak dekat pasar atau stasiun, menerima pesanan melalui pesan singkat, bahkan bergabung dengan bengkel sepatu modern sebagai pengrajin. Keterampilan tangan mereka sangat dihargai untuk pekerjaan yang membutuhkan ketelitian.
Pelanggan juga dapat membantu dengan memilih memperbaiki sepatu alih-alih langsung membuangnya.
Menghargai Profesi Tradisional
Tukang sol adalah bagian dari ekonomi sirkular sejak lama, jauh sebelum istilah itu populer. Menghargai mereka berarti menghargai budaya merawat barang.